Setelah Tekstil & Baja, Giliran Industri Kimia RI Krisis

  • 0

Setelah Tekstil & Baja, Giliran Industri Kimia RI Krisis

Category : Uncategorized


Jakarta – Seiring lemahnya permintaan dan pasokan yang cenderung berlebih, laba PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) harus rela tergerus hingga 71%. Hal itu diakibatkan karena harga jual rata-rata produk yang rendah terutama untuk jenis etilen dan poetilen.

Laba bersih yang mengalami keanjlokan hingga 71,1% pun dianggap wajar, mengingat kontribusi penjualan etilen dan poetilen mencapai 73,88% dari pendapatan sebelum eliminasi TPIA pada semester I 2019.

Dibandingkan kuartal sebelumnya, harga etilen anjlok hampir 11% pada kuartal II tahun 2019. Tercatat harga etilen pada kuartal I 2019 mencapai US$ 930/metrik ton sedangkan pada kuartal II harganya turun menjadi US$ 828/metrik ton.

Hal serupa juga terjadi pada harga polietilen, dimana polietilen turun menjadi US$ 1.094/metrik ton pada periode April-Juni 2019.

Pelemahan harga di atas diakibatkan oleh menurunnya permintaan akibat sepinya aktivitas perdagangan di kawasan Asia Tenggara, China dan Jepang. Faktor lain yang juga turut menekan permintaan yaitu adanya perang dagang AS-China.

Rupanya, penurunan permintaan etilen dan polietilen di tahun 2019 sudah diprediksi oleh beberapa lembaga riset global. Mengutip riset S & P Global Platts, pasokan etilen di Asia meningkat 3,5% di tahun 2019 dibandingkan tahun 2018.

Peningkatan pasokan tidak dibarengi dengan adanya peningkatan permintaan yang berarti membuat harga etilen tertekan. Belum lagi spread atau selisih harga etilen dengan nafta sebagai bahan dasarnya menyempit. Spread yang menyempit berarti margin menjadi kecil dan berpotensi untuk menyebabkan pengurangan jumlah kilang yang beroperasi.

Menurut riset Wood Mackenzie, sebagai negara importir terbesar di dunia negara China telah mulai menetapkan kebijakan untuk swasembada di sektor industri kimia dasar maupun polimer.

Lain lagi dengan studi yang dilakukan oleh ICIS, yang menyebutkan bahwa permintaan etilen China di kuartal kedua tergolong rendah seiring dengan peningkatan produksi dalam negeri. Penurunan permintaan dari China diprediksi juga masih akan turun di kuartal ketiga tahun ini.

Pelemahan harga polietilen juga dipicu oleh sepinya aktivitas perdagangan selama musim liburan dan ketidakpastian karena ketegangan perang dagang AS-China. Maklum, produk industri petrokimia juga menjadi sasaran pengenaan tarif dalam perang dagang tersebut. Akibat perang dagang tersebut, China memotong impor resin polietilen hingga 57% jadi 98.000 mt dibandingkan dengan kuartal ketiga.

Amerika juga ikut membalas perlakuan tersebut dengan mengenakan tarif impor kantung dan tas yang berbahan dasar polietilen dari China. Akibatnya, impor AS terus menurun dari kuartal III 2018. Hal itu terbukti dari tercatatnya impor tas dan kantung dari China yang mengalami penurunan hingga 19% pada kuartal IV dan terus berlanjut sampai Februari lalu sebesar 45%.

Pada akhirnya semua berdampak pada tertekannya harga etilen dan polietilen. Belum lagi menurunnya pasokan minyak akibat serangan drone di Arab Saudi yang berpotensi membuat harga si emas hitam melonjak. Potensi melonjaknya harga minyak sebagai bahan dasar tentu akan semakin menggerus margin industri petrokimia tanah air.


Leave a Reply