Resesi Ekonomi Menghantui, Indonesia Harus Tingkatkan Ketahanan Pangan

  • 0

Resesi Ekonomi Menghantui, Indonesia Harus Tingkatkan Ketahanan Pangan

Category : Uncategorized

Merdeka.com – Virus Corona terbukti mengakibatkan ekonomi dunia tak berdaya, tak terkecuali Indonesia. Resesi mulai menghantui Indonesia, terutama di akhir kuartal II akhir tahun ini. Imbasnya, pertumbuhan ekonomi kian terpuruk dan berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran.

Pengamat ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Suryanto mengatakan, ancaman resesi ekonomi Indonesia dan global adalah nyata. Menurutnya, jika ekonomi global mengalami resesi maka pasar ekspor akan mengalami gangguan.

“Yang terjadi berikutnya adalah kebangkrutan dunia usaha, kemudian diikuti oleh PHK besar-besaran,” ujar Suryanto kepada wartawan belum lama ini.

Menurut dia, indikator penurunan investasi masuk ke Indonesia dikhawatirkan juga akan menyebabkan jumlah uang beredar di Indonesia berkurang. Sejumlah indikator yang menunjukkan Indonesia sedang mengarah ke jurang resesi di antaranya, pertumbuhan ekonomi yang negatif pada kuartal II dan tren ekonomi kuartal III dan IV yang sangat bergantung pada kondisi perekonomian global.

Belum adanya titik terang berakhirnya pandemi Covid-19, menjadi tantangan berat bagi perekonomian Indonesia di kuartal II tahun ini. Dikhawatirkan hal tersebut membuat perekonomian Indonesia tidak bisa leluasa bergerak.

“Ancaman seperti ini bisa diantisipasi dengan usaha pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional bagi masyarakat,” katanya.

Kegiatan produksi yang terganggu, diakuinya, menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat. Jika pendapatan menurun akan menyebabkan perekonomian menjadi lesu.

“Indonesia harus memperkuat sektor-sektor primer terutama sektor pertanian untuk mendukung ketahanan pangan nasional,” tandasnya.

Dengan kekuatan ekonomi lokal tersebut, dia optimistis masyarakat tidak terlalu bergantung pada ekonomi global.

Sektor Terdampak

Suryanto mengatakan, sejumlah sektor yang kemungkinan merasakan dampak paling signifikan jika resesi benar-benar melanda Indonesia, salah satunya sektor jasa pariwisata. Keputusan yang diambil pemerintah memberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengakibatkan pariwisata menjadi sektor yang berpeluang terdampak serius.

Kendati demikian, ada sejumlah sektor yang menurutnya meraup untung di tengah pandemi Covid-19. Misalnya, jasa komunikasi penyedia jaringan, seperti Zoom, Meet, dan Webex.

Terkait dampak resesi Singapura terhadap Indonesia, Suryanto menyebut, tidak akan signifikan. Karena Singapura merupakan negara yang mengandalkan sektor tersier atau jasa dalam perekonomiannya.

“Kalau negara-negara yang selama ini menggantungkan ekonominya pada kegiatan ekspor, maka saat ini negara-negara mengalami kesulitan untuk melakukan ekspor karena pasar lesu,” katanya lagi.

Dia menilai, krisis Singapura meski berdampak pada ekonomi Indonesia tidak akan signifikan dalam jangka pendek. Struktur perekonomian Indonesia dan Singapura berbeda. Indonesia mengandalkan konsumsi rumah tangga dengan jumlah penduduk 270 juta, sedangkan Singapura hanya 5,6 juta.


Leave a Reply