Ribuan Buruh di Jabar di-PHK, Pengusaha Kehilangan Omzet sampai 50 Persen

  • 0

Ribuan Buruh di Jabar di-PHK, Pengusaha Kehilangan Omzet sampai 50 Persen

Category : Uncategorized

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Penyebaran virus corona mengganggu dunia usaha.

Pengusaha ada yang mengaku kehilangan omzet hingga 50 persen.

Bahkan ada yang menghentikan produksinya. Imbasnya, ada karyawan yang terpaksa dirumahkan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, Mochamad Ade Afriandi, mengatakan, puluhan ribu pekerja di Jawa Barat harus dirumahkan dan ribuan lainnya mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Sekitar 40 ribuan yang dirumahkan dan tiga ribuan itu yang terdampaknya PHK. Total sekitar 43 ribuan, lah. Itu baru data sementara. Nah, sebelum final, berarti data itu data sementara dan terus berkembang atau terus di-update,” kata Ade saat dihubungi, Sabtu (4/4).

Menurut Ade, dia baru mendata 502 perusahaan di 21 kabupaten dan kota di Jawa Barat sejak 31 Maret 2020.

Di Jawa Barat sendiri ada sekitar 47.221 perusahaan, 30 ribu perusahaan di antaranya masuk kategori mikro.

Skala kecil ada sekitar enam ribu perusahaan, skala sedang ada lima ribu perusahaan, dan skala besar industri ada sekitar tiga ribu perusahaan.

“Sebanyak 502 perusahan di Jabar itu ternyata 86 persennya sudah memberikan gambaran atau laporan mereka terdampak oleh Covid-19. Artinya, kan, pastilah ada yang terdampak sampai bisa tutup atau mungkin off dulu,” ujar Ade.

Menurut Ade, dampak yang mereka rasakan antara lain kesulitan bahan baku.

Negara yang diandalkan untuk mengimpor bahan baku, kata Ade, melakukan kebijakan lockdown.

Selain itu, pihak perusahaan atau industri juga bergantung pada pembeli yang mayoritas berada di negeri yang menyatakan lockdown.

Normal
Untungnya, hal itu tidak berimbas ke perusahaan sepatu milik Yusuf Sahroni (31).

 

Yusuf tetap menjalankan usahanya secara normal. Dia pun tetap mempekerjakan karyawan untuk memenuhi orderan yang tetap berdatangan.

“Kami harus terus menggenjot penjualan setiap hari sebelum makin memburuk,” kata Yusuf, pemilik perusahaan sneakers bermerek LAF Project, lewat aplikasi WhatsApp, Kamis (2/4).

Yusuf memiliki cara tersendiri agar produksi tetap berjalan. Dia tetap mempekerjakan karyawannya dengan mematuhi imbauan pemerintah, social distancing.

Yusuf mengisolasi karyawan, terutama bagian administrasi, di rumahnya.

Mereka yang masih indekos diberi fasilitas tempat menginap memadai di rumah Yusuf di Gang Haji Ibrahim, Jalan Cibaduyut, Kota Bandung.

Lilo (43), Head B&D (Business & Development) Bamboo Studio, menyebut virus korona berdampak kepada penjualan.

Menurutnya, ada penurunan yang signifikan, terutama offline, seperti dari sales, konter di deptstore, dan pengunjung ke galeri.

Namun, katanya, dari segi produksi perusahaan masih tetap berjalan sesuai jadwal dengan bahan baku yang sudah dipersiapkan sebelum wabah.

Bamboo Studio adalah perusahaan yang memproduksi kaus kaki, sepatu, dan lain-lain, yang menggunakan bahan serat bambu.

Mereka memiliki galeri dan tempat produksi di Jalan Sanggar Kencana VI, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung.

“Kalau lewat online, tetap seperti biasanya ada penjualan atau pengiriman sama dengan biasanya,” kata Lilo lewat WhatsApp, Kamis lalu.

Menurut Lilo, yang menjadi kendala adalah pasokan bahan baku yang diimpor dari Cina.

“Saat ini dibatasi bahkan belum boleh masuk ke Indonesia,” katanya.

Kendala lainnya, kata Lilo, toko-toko pelanggan banyak yang meminta mundur jatuh tempo pembayaran, yang memberikan efek domino memaksa perusahaan mengajukan penangguhan pembayaran ke pemasok bahan baku.

“Aktivitas pekerja juga banyak yang bergilir. Pegawai-pegawai yang sakit dipaksakan jangan masuk karena akan berisiko pegawai lain tertular. Hal tersebut menurunkan produktivitas kerja karyawan,” katanya.

Lilo mengatakan sulit mengejar target pemasaran karena situasi lapangan yang membuat petugasnya susah masuk ke wilayah yang menerapkan karantina.

“Karyawan juga ada yang meminta untuk dirumahkan karena takut wabah jika tetap bekerja ke lapangan,” kata Lilo.

Hemat Anggaran
Muhammad Yasin, pemilik Gesit Konveksi, merumahkan beberapa karyawannya. Yasin menunggu produksi kembali berjalan dan karyawan yang dirumahkan akan dipanggil lagi.

“Lumayan tantangannya dan itu untuk menghemat anggaran,” kata Yasin lewat aplikasi WhatsApp, Kamis (2/4).

Sekarang, kata Yasin, cuma satu orang karyawan lapangan dari sebelumnya tiga karyawan.

Mereka adalah yang bertugas di lapangan yang biasa belanja-belanja bahan, kirim-kirim barang, dan lain-lain.

Menurut Yasin, April ini belum ada order yang masuk. Biasanya, kata Yasin, setiap hari orderan masuk.

“Ini April baru dua hari. Dampak virus korona ini lumayan,” katanya.

Yasin memiliki rencana, kalau kondisi belum banyak berubah, dia akan menghentikan produksi supaya beban operasionalnya tidak banyak. Untuk topi pun, kata Yasin, sekarang tidak banyak orderan. Sebagian mitra (penerima maklun), katanya, berhenti jahit.

Kondisi serupa dialami pengusaha rajut binong. Bahkan, Asep Dadang (42), pengusaha rajut, mengatakan barang pesanan yang tertahan mencapai 90 persen.

“Itu terjadi karena banyak perusahaan ekspedisi yang libur,” kata Asep lewat WhatsApp, Kamis (2/4).

Menurut Asep, produksi rajutnya masih berjalan dan pesanan datangnya hanya dari online, sedangkan lewat offline sedikit. Karena itu, karyawan di rumahnya bergilir masuk bergantian selama seminggu.

Hal yang sama dirasakan perajin rajut lainnya, Epa Sartika (39). Menurutnya, di Binongjati masih ada yang berproduksi. Namun, katanya, sebagian lagi diliburkan.

Menurutnya, barang banyak yang menumpuk di gudang karena orderan cenderung sepi. Lagi pula, kata Epa, banyak perusahaan ekspedisi yang tutup.

“Yang saya tahu itu di sekitaran Jalan Ibrahim Adjie,” kata Epa lewat WhatsApp, Kamis (2/4).

Pengusaha sepatu pun merasakan hal yang sama. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengrajin Alaskaki Indonesia (APAI), H. Taufiq Rahman, MBA (52), perusahaan sepatu banyak yang berhenti total.

“Sekarang bahan baku tidak ada. Kirim barang juga tidak bisa. Kan, dilarang pemerintah. Beberapa kota sudah ditutup. Yang bisa lewat cuma ekspedisi sembako,” katanya kepada Tribun lewat WhatsApp, Kamis (2/4).

Taufiq mengatakan, berdasarkan info dari teman-temannya, banyak perajin beristirahat dulu.

“Kami hanya bisa istirahat di rumah. Bantu pemerintah untuk tinggal dalam rumah saja mencegah penyebaran Covid-19,” katanya. (nazmi abdurahman/januar ph)

Siapkan Asupan Sehat Setiap Hari
UNTUK memberikan jaminan kesehatan bagi karyawannya, Yusuf Sahroni (31), pemilik perusahaan sneakers LAF Project, sangat memperhatikan asupan. Dia menyediakan makanan sehat.

“Memperhatikan juga karyawannya karena kadang pegawai suka telat makan. Agar sistem imun stabil atau tidak lemah,” kata Yusuf saat dihubungi Tribun Jabar lewat WhatsApp, Kamis (2/4).

Yusuf juga mengisolasi pekerjanya di rumah yang sekaligus tempat produksi di Gang Haji Ibrahim, Jalan Ciabduyut, Kota Bandung. Terutama bagian administrasi yang kebanyakan belum berumah tangga dan indekos. Mereka bisa tidur di tempat yang telah disediakan di sana.

Karena karyawannya sedikit, Yusuf memberikan jarak antara karyawan dan karyawan lainnya di tempat bekerja. “Ini untuk menjaga kesehatan. Kami juga menyediakan hand sanitizer. Setiap keluar-masuk, karyawan harus pakai hand sanitizers,” katanya.

Untuk yang bekerja di pabrik karena kebanyakan karyawannya sudah menikah, Yusuf memperbolehkan pulang. Namun, katanya, tetap memperhatikan asupan dan kesehatan mereka.

Yusuf berharap pandemi virus korona cepat berlalu. Setelah virus itu merebak, Yusuf merasa waswas. Terutama terhadap kesehatan keluarga, karyawan, dan semua warga Indonesia. “Kalau seperempat orang Indonesia terkena, kan, bahaya juga untuk ke depannya,” kata Yusuf.

Yusuf juga waswas sumber bahan baku produk sepatu tidak tersedia karena sebagian toko sudah tutup. Yusuf mengaku kesulitan ketika banyak wilayah yang sudah dikarantina.

Saat ini, perusahaan Yusuf memasarkan melalui online. “Garda terdepan saya adalah ekspedisi. Jika ekspedisi tidak berjalan, pengiriman barang ke konsumen tidak akan berjalan,” katanya.

Untungnya, kata Yusuf, hingga Kamis (2/4), perusahaan ekspedisi masih tetap buka meski ada keterlambatan. Waktu pengiriman yang biasa ke Jabodetabek 1-3 hari bisa lebih lama. Waktunya disesuaikan dengan kondisi di lapangan. “Setiap hari saya selalu konfirmasi kepada pihak ekspedisi,” katanya.

 


Leave a Reply