Monthly Archives: April 2021

  • 0

KSPSI Putuskan Tidak Demo Besar-besaran Saat May Day 2021, Ini Alasannya

Category : Uncategorized

JAKARTA, KOMPAS.com – Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) memutuskan untuk tidak menurunkan massa buruh ke jalan secara besar-besaran pada Perayaan Hari Buruh atau May Day 1 Mei 2021.

Hal ini dilakukan karena situasi yang masih penuh keperihatinan akibat pandemi Covid-19 di Indonesia belum usai.

Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea mengatakan, langkah ini diambil untuk menghindari adanya klaster baru Covid-19.

“Kami memutuskan untuk May Day 2021 tidak menggelar aksi massa besar-besaran seperti tahun-tahun sebelumnya, karena kami tidak ingin menciptakan klaster baru,” ujar Andi, Kamis (29/4/2021).

Andi Gani menjelaskan, keputusan untuk tak terjun ke jalan secara besar-besaran ini diambil setelah melihat perkembangan kasus Covid-19 yang masih meningkat.

Dia juga ingin membuktikan bahwa buruh bukan hanya jago demo, tapi juga punya rasa empati dan kepedulian yang tinggi terhadap sesama.

Untuk itu, banyak ragam kegiatan yang akan dilakukan sebagai pegganti aksi turun ke jalan.

Pertamai, saat May Day ia akan memimpin langsung delegasi dari KSPSI datang ke Gedung Mahkamah Konstitusi (MK).

Kedua, ia juga akan memimpin delegasi ke Istana Negara untuk menyerahkan Petisi May Day 2021.

Selain itu juga ada kegiatan penyerahan bantuan APD, masker, hand sanitizer untuk tenaga kesehatan dan masyarakat.

“Jam 11.00 WIB kami akan ke MK, tentunya ini terkait dengan pembahasan UU Omnibus Law. Sekitar jam 12.00 WIB kami ke Istana Negara, saya sudah berkomunikasi intens dengan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno untuk menyerahkan Petisi May Day 2021,” ungkapnya.

Petisi May Day berisikan tuntutan dan harapan buruh terutama soal Omibus Law, kondisi buruh di masa pandemi, dan Tunjangan Hari Raya (THR).

Untuk delegasi yang disiapkan, kata Andi Gani, juga dibatasi dan wajib melakukan swab antigen. Wajib juga ditunjukan dengan surat bukti tes. Semua kegiatan buruh KSPSI memegang teguh dan patuh protokol kesehatan.

“Ini bukti bahwa buruh KSPSI punya kepedulian dan empati tinggi terutama kepada masyarakat agar Covid-19 tidak semakin memburuk di Indonesia. Kita bisa melihat di India, ketika sudah turun sekarang naik drastis dengan jumlah yang sangat luar biasa,” jelasnya.

Andi Gani sadar keputusannya untuk tidak melakukan aksi besar-besaran akan menimbulan pro dan kontra. Namun, dirinya siap menerima konsekuensi apapun.

Tak hanya di Jakarta, KSPSI yang berada di daerah, akan menurunkan delegasi ke kantor gubernur, bupati dan wali kota di masing-masing daerah.

Sementara itu terkait THR, Andi Gani mendesak pemerintah memberlakukan sanksi bagi perusahaan yang menunggak pembayaran kepada pekerja.

“Sampai saat ini masih ada perusahaan yang mencicil THR dari tahun 2020. Karena itu harus ada ketegasan dari pemerintah untuk bisa memberikan sanksi tegas kalau ada perusahaan yang tidak melakukan kewajibannya dengan baik. Sampai hari ini belum ada sanksi apapun,” tegasnya.

Ia berharap sanksi yang tegas membuat perusahaan taat membayar THR bagi karyawannya tahun ini.


  • 0

Industri Manufaktur Dinilai Terus Menurun Sejak 5 Tahun Terakhir

Category : Uncategorized

Merdeka.com – Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero), Fajar Harry Sampurno menilai, peran sektor manufaktur Indonesia saat ini dalam kondisi darurat. Sebab, sektor ini dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yang menunjukkan tren menurun. Meski di masa pandemi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional dengan sumbangsih 19,9 persen.

“Sektor manufaktur ini kami lihat sebenarnya darurat karena posisi perannya semakin turun,” kata Fajar dalam Webinar Strategi Membangkitkan Kembali Sektor Industri di Indonesia, Jakarta, Kamis (29/4).

Berbeda jauh dengan era tahun 1960 hingga 1998 yang terus menunjukkan trend peningkatan. Sektor manufaktur menjadi penggerak utama perekonomian nasional kala itu. Persentase kontribusi sektor tersebut melebihi pertumbuhan ekonomi di masanya.

“Dulu itu tumbuhnya dua kali lipat dari perekonomian nasional dan ini berhenti di tahun 1998. Terus mengalami penurunan hingga saat ini,” ungkap Fajar.

Fajar tidak menutup mata, sektor manufaktur selama tahun 2020 memiliki daya tahan karena mampu berkontribusi 19,9 persen kepada pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, hal itu tetap patut dikritisi, kondisi ini murni daya tahan sektor manufaktur atau malah karena sektor penopang utama lainnya yang anjlok.

“Berkat pandemi ini tidak turun tapi bertahan di angka 19 persen. Ini karena persentasenya begitu atau karena sektor lain ambruk atau apa dan ini terlihat bertahan.,” kata dia.

Secara umum dunia usaha terus berubah dan mengalami pasang surut. Tercermin dari di tahun 2006, bisnis minyak, manufaktur dan perbankan menjadi tiga besar sektor usaha yang masuk peringkat dunia. Selang 10 tahun kemudian hingga saat ini, perusahaan-perusahaan di tiga sektor tersebut tak lagi menduduki posisi teratas. Berganti menjadi Apple, Microsoft dan Alibaba.

Berbagai perubahan tersebut tidak terlepas dari peran perkembangan teknologi digital. Indonesia pun sejak pandemi Covid-19 mulai mempercepat akselerasi transformasi digital 4.0 yang sayangnya berbagai negara lain sudah mempersiapkan diri untuk masuk ke 5.0.

“Di industri sendiri terjadi disruptif, kita tahu kita pemerintah bilang menuju industri 4.0. Kita sedang kejar ini, padahal dunia ini sudah mulai 5.0 yakni personalisasi,” kata dia.

Meski begitu, fajar melihat ada peluang yang bisa dimanfaatkan Indonesia untuk mengejar ketertinggalan. Di masa depan Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam industri berkelanjutan.

Lewat pembangunan ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai ini, Indonesia bisa mengambil peran karena memiliki stok bahan baku yang berlimpah. Indonesia bisa memanfaatkan ini sebagai pengendali tanpa perlu menunggu negara lain terlebih dulu.

“Kalau kita yakin, kita bisa dan kita harus melakukan perubahan itu sendiri, bukan menunggu kita yang harus berubah,” kata dia mengakhiri.


  • 0

Survei: 50 Persen Usaha di Indonesia Permanenkan Pola Kerja Jarak Jauh

Category : Uncategorized

Merdeka.com – Hasil survei perusahaan jasa finansial, PricewaterhouseCoopers (PwC) menemukan sekitar 50 persen responden yang merupakan pemimpin perusahaan di Indonesia, telah mempermanenkan pola kerja jarak jauh seperti work from home (WFH).

“Menariknya, 50 persen responden Indonesia telah menjadikan kerja jarak jauh sebagai pilihan permanen bagi karyawan mereka, sementara hanya 39 persen responden global yang menetapkan kerja jarak jauh permanen,” kata Forensic Advisor PwC Indonesia, Paul van der Aa dikutip dari Antara, Kamis (29/4).

Dia mengemukakan, terkait dengan pola kerja jarak jauh, infrastruktur pendukung dan kapabilitas mengolah data sangat penting, terutama karena kerja jarak jauh memenuhi kebutuhan akan cara pengambilan keputusan yang jelas dan memicu risiko serangan dunia maya.

Paul memaparkan, delapan dari sepuluh organisasi di Indonesia melaporkan bahwa mereka berencana untuk meningkatkan investasi mereka dalam membangun ketahanan melalui manajemen krisis, kelangsungan bisnis, dan perencanaan darurat.

Ada banyak cara untuk dijalankan untuk itu, tetapi dilaporkan hanya 22 persen dari responden yang merasakan bahwa berbagai fungsi manajemen krisis mereka terintegrasi dengan sangat baik.

“Di masa yang belum pernah terjadi sebelumnya, organisasi mengambil tindakan penting untuk fokus pada kesehatan karyawan dalam menanggapi Covid-19. Organisasi memberikan dukungan mulai dari menerapkan kerja jarak jauh dan protokol keselamatan, sampai membantu karyawan dengan problem pribadinya,” paparnya.

Paul mengemukakan bahwa sebagai pembelajaran, para pemimpin bisnis menyadari bahwa fondasi ketahanan dapat membuat perbedaan antara menurun atau berkembang kinerja bisnisnya.

Global Crisis Survey PwC secara global memiliki responden lebih dari 2.800 pemimpin perusahaan yang mewakili berbagai skala bisnis di 29 industri dan 73 negara (termasuk 112 pemimpin usaha di Indonesia).

Kadin Pilih Pengetatan Protokol Kesehatan

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Industri, Johnny Darmawan mengatakan bahwa dia memilih pengetatan protokol kesehatan secara disiplin dibandingkan kembali menerapkan bekerja dari rumah (WFH) secara penuh.

“Saya tidak setuju kalau WFH 100 persen. Karena sekarang kita sudah berjalan ekonominya, sudah banyak perbaikan, yang terpenting adalah kita jangan terlena dengan adanya vaksin,” katanya.

Menurut Johnny, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di India dapat dijadikan contoh agar masyarakat Indonesia tetap menjaga protokol kesehatan dan senantiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, tes usap masih perlu dilakukan untuk menelusuri penyebaran virus Covid-19. Johnny menambahkan, jika WFH diberlakukan kembali, maka dikhawatirkan perekonomian akan kembali terpuruk.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 melaporkan telah terjadi peningkatan penularan SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 pada klaster perkantoran di DKI Jakarta dalam dua pekan terakhir.

“Pada 5-11 April 2021 terdapat 157 kasus positif Covid-19 di 78 perkantoran. Sementara pada 12-18 April 2021 jumlah positif Covid-19 meningkat jadi 425 kasus dari 177 perkantoran,” kata Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.

Jumlah tersebut dihimpun berdasarkan data yang dirilis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Kemunculan beberapa kasus positif di perkantoran, kata Wiku, telah direspons Satgas Covid-19 dengan mendorong pemerintah setempat melakukan penutupan sementara operasional kantor.


  • 0

Menaker Ida Minta Pekerja Patuhi Protokol Kesehatan saat Peringati May Day

Category : Uncategorized

Merdeka.com – Kurang dari seminggu lagi, para pekerja dan buruh bakal memperingati peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). Namun di sisi lain, pandemi Covid-19 belum kunjung usai, bahkan dalam 2 minggu terakhir mengalami peningkatan untuk klaster perkantoran di DKI Jakarta.

Menteri Ketenagakerjaan RI, Ida Fauziyah mempersilakan para pekerja merayakan May Day dengan berbagai cara. Namun Menaker Ida mengingatkan agar tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Saya ingatkan teman-teman pekerja yang nanti merayakan May Day agar tetap mengikuti protokol Kesehatan,” kata Menaker Ida di Jakarta, Rabu (28/4).

Menaker Ida tidak menginginkan para pekerja mengabaikan prokes sehingga menimbulkan klaster baru. Baginya, merebaknya kasus Covid-19 yang sedang melanda di India harus menjadi pelajaran berharga.

“Kita harus banyak belajar dari India yang melonggarkan prokes yang mengakibatkan klaster baru yang lebih dahsyat. Ini jangan sampai menimpa kita,” ucapnya.

Dia mengatakan, pada May Day 2021 ini, Kementerian Ketenagakerjaan juga ikut merayakan dengan menyelenggarakan vaksinasi bagi pengurus konfederasi dan sejumlah kegiatan sosial lainnya.

“Kami juga akan menyelenggarakan May Day bersama-sama dengan serikat pekerja/serikat buruh dan APINDO sebagai unsur pengusaha. Berbagai kegiatan sosial akan kami selenggarakan sebagai bentuk kepedulian kami,” tekannya.

Untuk itu, dia berharap, May Day dapat menjadi momentum penguatan kebersamaan dan persaudaraan, menjadi alat pemersatu bangsa, dan meningkatkan ketahanan sosial untuk melawan Covid-19.


  • 0

4 Kunci Penentu Keberhasilan Perusahaan di Masa New Normal

Category : Uncategorized

Merdeka.com – Pelaku industri dalam satu tahun terakhir menyiasati krisis pandemi dengan menerapkan budaya kerja remote working atau bekerja dari jarak jauh. Menurut riset World Economic Forum (Oktober 2020), sebanyak 91,7 persen perusahaan di Indonesia telah menerapkan kebijakan ini, dan 58,3 persen menyatakan penerapan otomasi pekerjaan meningkat.

Cloud computing juga termasuk sebagai salah satu teknologi yang paling tinggi diadopsi selama pandemi, mencapai 95 persen. Sejalan dengan riset tersebut, perusahaan penyedia layanan aplikasi berbasis cloud computing PT Zahir Internasional mengalami pertumbuhan pengguna lebih dari 150 persen selama pandemi.

Hal ini juga didorong dengan meningkatnya minat perusahaan besar atau korporasi mengadopsi Zahir ERP (enterprise resource planning) yang kini menjadi produk andalan milik Zahir. Pandemi mendorong pelaku industri menerapkan teknologi yang lebih mudah digunakan kapan saja dan di mana saja, serta mampu mengintegrasikan proses bisnis yang kompleks menjadi efisien dan lebih produktif.

CEO Zahir, Muhamad Ismail mengungkapkan, pandemi menjadi momentum bagi pelaku industri untuk berinvestasi pada infrastruktur teknologi. Peningkatan minat justru datang dari korporasi besar yang memiliki proses bisnis yang lebih kompleks.

“Melihat perusahaan startup melakukan remote working mungkin sudah biasa, namun belakangan ini, peningkatan minat justru datang dari korporasi besar yang memiliki proses bisnis yang lebih kompleks. Beberapa klien korporasi baru Zahir datang dari perusahaan migas, logistik, sampai fashion,” ujarnya dalam keterangan yang diterima merdeka.com, Jakarta, Rabu (28/4).

Lebih lanjut Ismail menambahkan, korporasi di berbagai industri seperti manufaktur, logistik, konstruksi, serta industri olahan sumber daya alam, perlu melakukan transformasi digital dengan beralih ke ERP agar perusahaan bisa beradaptasi dengan dinamika bisnis belakangan ini yang harus bisa mendukung remote working dan otomasi untuk meningkatkan efisiensi.

Di samping data World Economic Forum yang menunjukkan tren positif pada digitalisasi industri, Zahir yang terlibat langsung dalam implementasi sistem di lapangan menilai bahwa sebenarnya kemampuan perusahaan di Indonesia dalam menerapkan remote working secara strategis belumlah merata, sehingga, manfaat seperti peningkatan produktivitas, efisiensi, dan transparansi tidak dirasakan secara maksimal oleh perusahaan tersebut.

“Ada juga beberapa perusahaan yang mengeluh bahwa sejak remote working, produktivitas karyawan menurun. Namun setelah ditelusuri, penyebabnya karena tidak ada infrastruktur sistem yang mumpuni yang bisa diakses di luar kantor, sehingga saat bekerja dari rumah, ruang gerak karyawan jadi terbatas, tentu berpengaruh pada lambatnya proses bisnis antar departemen lainnya,” jelas Ismail.

4 Kunci Penentu Keberhasilan

Riset dari McKinsey (2020) menyebutkan, ada empat kunci penentu keberhasilan perusahaan di masa new normal yang harus diperhatikan manajemen atau decision makers, yaitu people (sumber daya manusia), structure (struktur), process (proses), dan technology (teknologi).

1. SDM

Pertama, people, terkait dengan dampak psikologis karyawan secara personal. Perusahaan perlu menciptakan suasana komunikasi yang efektif selama bekerja tanpa bertatap muka, dan memberikan fleksibilitas bagi karyawan. Karyawan bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan terhindar dari segala hambatan, salah satunya dengan dukungan sistem operasional yang memiliki fitur yang dibutuhkan.

2. Struktur

Kedua, structure, terkait pemahaman karyawan terhadap goals perusahaan. Perusahaan perlu memastikan, karyawan paham dengan target dan orientasi bisnis saat ini, termasuk jika menghadapi situasi kondisi krisis. Dan dibutuhkan alur yang jelas untuk prosedur reporting. Untuk itu, sistem ERP yang dibutuhkan oleh para decision makers mulai dari fungsi monitoring secara optimal, mengetahui status dan proses secara real time, sehingga mereka memiliki dasar dalam proses pengambilan keputusan yang objektif dan relevan.

3. Proses

Ketiga, process, yaitu prioritas tugas dan tanggung jawab yang seringkali double job. Perusahaan perlu menetapkan batasan-batasan tugas yang jelas, baik antara individu maupun tim. Tantangan yang dihadapi perusahaan besar yang masih menggunakan metode konvensional biasanya tidak saling terhubung antar aktivitas bisnis. Misalnya, bagian gudang harus menunggu data dari bagian produksi untuk mengatur stok barang. Sistem ERP memangkas proses-proses seperti ini karena adanya transparansi data yang bisa langsung diakses dengan teknologi API (application programming interface).

4. Teknologi

Keempat, technology, yaitu infrastruktur teknologi mulai dari hardware, software, sampai skill karyawan untuk menggunakan teknologi tersebut. Menggunakan teknologi SaaS menjadi salah satu cara efektif untuk kolaborasi tim. Zahir melakukan implementasi sistem pada perusahaan skala enterprise maksimal 30 hari, waktu yang relatif jauh lebih cepat dibandingkan layanan lainnya yang bisa memakan waktu bulanan.


  • 0

Indonesia Masih Jadi Primadona Tujuan Investasi Skala Global

Category : Uncategorized

Merdeka.com – Kementerian Perindustrian mencatat Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi bagi sejumlah industri skala global. Tak hanya itu, Indonesia juga masih dipilih menjadi basis produksi guna memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor. Hal ini sejalan dengan tekad pemerintah dalam upaya menciptakan iklim usaha yang kondusif dengan memberikan kemudahan izin usaha dan berbagai insentif menarik.

“Salah satu wujud nyata dukungan pemerintah adalah menerbitkan Undang-Undang Cipta Kerja, yang tentunya dapat mempermudah izin usaha dan memberikan kepastian hukum bagi para pelaku industri di tanah air,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa (27/4).

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sepanjang triwulan I tahun 2021, nilai investasi yang direalisasikan oleh industri pengolahan menembus Rp88,3 triliun. Nilai tersebut naik 38 persen dibanding capaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp64 triliun.

“Dari Rp88,3 triliun tersebut, sektor manufaktur memberikan kontribusi signifikan hingga 40,2 persen terhadap total nilai investasi di Indonesia yang mencapai Rp219,7 triliun. Realisasi investasi nasional tersebut naik 4,3 persen dibanding pada triwulan I-2020 (Rp210,7 triliun),” ungkapnya.

Rincian nilai investasi sektor industri manufaktur pada triwulan I-2021, yaitu berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp23 triliun serta penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp65,3 triliun. Jumlah sumbangsih tersebut melonjak dibanding perolehan pada periode yang sama tahun lalu, yakni PMDN sekitar Rp19,8 triliun dan PMA (Rp44,2 triliun).

Adapun dua sektor manufaktur yang mencatatkan performa gemilang dalam menggelontorkan dananya sepanjang kuartal pertama tahun ini adalah industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebesar Rp27,9 triliun atau berkontribusi 12,7 persen. Lalu, industri makanan sebesar Rp21,7 triliun atau berkontribusi 9,9 persen.

“Kami sangat memberikan apresiasi kepada para pelaku industri yang masih semangat untuk melakukan ekspansi di tanah air, meskipun diterpa tekanan dampak pandemi Covid-19. Ini sebuah kepercayaan yang berharga, yang juga akan membawa multiplier effect bagi upaya pemulihan ekonomi nasional,” paparnya.

Penyerapan Tenaga Kerja

Selama ini investasi sektor industri berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal, menggerakkan sektor industri kecil, dan memacu ekspor ke pasar global. Oleh karenanya, Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk menjaga aktivitas sektor industri agar tetap bisa berproduksi.

Kemenperin menargetkan investasi di sektor industri manufaktur mencapai Rp323,56 triliun pada tahun 2021, naik Rp58,28 triliun dari target tahun 2020 sebesar Rp265,28 triliun. Proyeksi serapan investasi ini berdasarkan asumsi pandemi Covid-19 yang terkendali dengan adanya program vaksinasi.

Sasaran investasi yang tumbuh positif tersebut, juga sejalan dengan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas yang diproyeksikan naik menjadi 3,95 persen pada tahun 2021. “Investasi akan menjadi faktor penggerak pertumbuhan sektor industri,” imbuhnya.

Agus menambahkan, strategi lain yang bisa menjadi daya tarik bagi investor, antara lain adalah program pembangunan kawasan industri terintegrasi, pengembangan sektor padat karya, dan pengembangan ekonomi digital. “Hal ini sesuai dengan program prioritas yang ada di dalam roadmap Making Indonesia 4.0,” pungkasnya.


  • 0

Pemerintah Beberkan Indikator Pemulihan Ekonomi Mulai Berjalan di 2021

Category : Uncategorized

Merdeka.com – Sekretaris Menteri Perekonomian, Susiwijono Moegiarso menyebut, sinyal positif pemulihan ekonomi nasional sudah semakin terlihat. Hal ini tercermin dari beberapa indikator komponen pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan tren peningkatan.

Jika dilihat dari sisi konsumsi, mulai dari indeks keyakinan konsumen (IKK) pada Maret 2021 naik cukup tinggi yakni berada di 93,40. Kemudian beberapa penjualan ritel juga terdorong naik cukup tinggi 28,2 persen seiring dengan berbagai kebijakan pemerintah dalam insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM).

“Kita tahu kebijakan insentif PPnBM untuk otomotif kemarin meningkatkan penjualan otomotif sampai 72,6 persen secara bulan ke bulannya,” jelasnya dalam webinar Pemulihan Ekonomi untuk Sektor UMKM Nasional, secara virtual, Rabu (28/4).

Tak hanya itu, kebijakan pemerintah di sektor perumahan juga turut mendorong permintaan dalam negeri. Berdasarkan informasi dari Real Estate Indonesia (REI) pada Maret kemarin naik 39,6 persen.

“Jadi saya pikir di Maret-April ini indikator sangat bagus untuk konsumsi,” imbuhnya.

Kemudian untuk investasi beberapa indeks yang menunjukkan terutama bagaimana sektor produksi industri manufaktur indeks PMI di Maret berhasil mencapai 53,2, ini masuk ke level ekspansif atau merupakan angka yang tertinggi dalam beberapa tahun ini.

Selanjutnya

Demikian juga pada Maret kemarin impor barang modal dan bahan baku bahan penolong naik sangat tinggi sekali. Hal ini menunjukkan kegiatan produksi sudah mulai bangkit kembali Indonesia.

Di samping itu, pengeluaran pemerintah baik realisasi belanja Kementerian atau Lembaga maupun program pemulihan ekonomi juga ini naik cukup tinggi dan realisasinya cukup bagus. Terakhir terkait dengan ekspor, adanya harga komoditas yang cukup bagus di pasar global membuat ekspor Indonesia naik cukup tinggi diiringi juga impor.

“Ini kira-kira beberapa indikator yang menunjukkan optimisme ekonomi kita di 2021,” jelasnya.


  • 0

May Day, Buruh akan Lawan ‘Rezim’ Upah Murah

Category : Uncategorized

Jakarta – Para buruh tahun ini akan turun ke jalan menggelar aksi untuk memperingati Hari Buruh Internasional (May Day). Salah satu tuntutannya adalah mencabut PP turunan UU Cipta Kerja khususnya klaster ketenagakerjaan.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, gedung Mahkamah Konstitusi akan menjadi salah satu titik konsentrasi massa pada 1 Mei nanti.

“Karena kami ingin MK mencabut PP turunan UU Cipta Kerja atau Omnibus Law, khususnya klaster ketenagakerjaan. Kami harap hakim MK mendengarkan, antara lain hilangnya kepastian pendapatan,” ucapnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (27/4/2021).

Said menjelaskan hilangnya kepastian pendapatan para buruh tercermin dalam pengertian bahwa Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) dapat diputuskan oleh gubernur. Menurutnya kata ‘dapat’ menunjukkan ketidakpastian karena gubernur juga tidak bisa menetapkan.

“Tidak ada kepastian, karena menggunakan kata-kata ‘dapat’. Berarti tidak ada kepastian, kembali kepada rezim upah murah,” ucapnya.

Jika gubernur tidak bisa menetapkan maka yang diberlakukan adalah Upah Minimum Provinsi (UMP). Said menilai jika UMP yang diberlakukan maka upah yang diterima para buruh yang tadinya secara sektoral akan turun jauh.

Dia mencontohkan UMK di wilayah Bekasi Rp 4,9 juta, Purwakarta Rp 4,5 juta dan Karawang Rp 4,9 juta. Upah itu akan turun menjadi Rp 1,8 juta karena mengikuti besaran UMP Jawa Barat.

“Ini memberikan ketidakpastian upah, no income security. Ini diperparah lagi dengan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) untuk tahun 2021 yang belum dipastikan. Ini berarti dengan hilangnya UMSK, UMSK tahun 2020 di Bekasi dan Karawang itu Rp 5,2 juta, UMK 2021 Rp 4,9 juta, turun dong karena UMSK tidak diberlakukan,” tutupnya.


  • 0

May Day, Buruh Bakal Datangi Istana dan Mahkamah Konstitusi

Category : Uncategorized

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengklaim ada 50.000 buruh yang akan melakukan aksi Hari Buruh Internasional (May Day) yang berlangsung pada 1 Mei 2021.

Aksi ini akan dipusatkan di Istana Kepresidenan dan Mahkamah Konstitusi.

Said Iqbal mengatakan, ada dua isu utama yang diusung dalam May Day tahun ini. Pertama adalah membatalkan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. Yang kedua adalah pemberlakuan upah minimum sektoral kabupaten/kota (UMSK).

Selain buruh, KSPI juga melibatkan gerakan mahasiswa seperti BEM yang ada di kampus-kampus ternama serta KAMMI terkait dengan aksi May Day. Saat May Day nanti, Mahasiswa dan buruh akan bersatu dan turun jalan bersama untuk menyuarakan penolakan terhadap Omibus Law.

“Karena masalah Omnibus Law bukan hanya masalah kami yang saat ini sedang bekerja. Tetapi juga generasi muda yang nanti akan memasuki pasar kerja,” katanya melalui keterangan tertulis, Selasa (27/4/2021).

Saat ini, KSPI sedang melakukan uji formil dan uji materiil terhadap Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Kepada Mahkamah Konstitusi, buruh meminta agar aksi penolakan mereka terhadap Omnibus Law didengarkan.

“Bagi kami, Undang-undang Cipta Kerja menghilangkan kepastian kerja, kepastian pendapatan, dan jaminan sosial,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, apabila UMSK tidak diterapkan maka akan terjadi penurunan daya beli buruh yang signifikan. Begitu pun dengan tidak adanya jaminan sosial.

Keberadaan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), dinilai belum mampu memberikan proteksi kepada buruh yang kehilangan pekerjaan.

Selain buruh kontrak dan outsourcing akan sulit mengakses JKP, dana JKP juga menurut Said, akan diambil dari dana Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) sehingga ke depan dikhawatirkan akan terjadi gagal bayar.


  • 0

Industri Televisi dan Permainan Tetap Catatkan Pertumbuhan Selama Pandemi di 2020

Category : Uncategorized

Merdeka.com – Pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi sektor yang sangat terdampak dari pandemi Covid-19. Hampir seluruh sektor ekonomi kreatif mengalami tekanan selama 2020 lalu.

Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Raden Kurleni Ukar mengatakan, ada beberapa sektor yang mengalami penurunan tajam. Mulai dari subsektor aristektur, periklanan, dan kuliner. Ini terjadi akibat rendahnya permintaan di tiga subsektor tersebut.

“Subsektor arsitektur dan periklanan masing-masing turun 5,2 persen, kuliner terkontraksi 3,89 persen. Ketiganya paling terdampak pandemi Covid-19,” ujarnya dalam diskusi Mendobrak Inersia Pemulihan Ekonomi, Selasa (27/4).

Meski demikian, masih terdapat dua subsektor yang menjadi tumpuan ekonomi kreatif selama tahun lalu. Di antaranya yakni televisi dan radio hingga aplikasi dan game developer. Kedua subsektor ini masih tumbuh positif selama tahun lalu.

Adapun pertumbuhan televisi dan radio tercatat sebesar 10,48 persen di 2020. Disusul oleh aplikasi dan game yang tumbuh 4,47 persen sepanjang tahun lalu.

“Kita perlu tetap optimistis, kita percaya dari balik masalah ini ada peluang. Subsektor TV dan radio, serta aplikasi game ini para gamers, mengalami pertumbuhan positif, meskipun pertumbuhannya masih rendah ya kalau kita lihat dari 2019,” jelasnya.

55 Persen Musisi Indonesia Jual Alat Musik untuk Bertahan Hidup

Febrian Nindyo Purbowiseso atau dikenal sebagai Febrian HIVI menyebut bahwa sekitar 55 persen dari musisi Indonesia kini telah menjual alat musiknya untuk bertahan hidup selama masa pandemi Covid-19.

Angka itu didapatnya saat melakukan survei bersama Federasi Serikat Musisi Indonesia (Fesmi) kepada 186 orang, dengan wilayah kerja untuk DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Menurut Febrian, pekerjaan musisi yang selama ini banyak mengandalkan panggung offline memang sangat terdampak pandemi. Sehingga mau tak mau mereka harus menjual alat musik yang selama ini jadi sumber pendapatannya.

“Ketika tanya apakah Anda sempat menjual alat musik atau aset lain yang berhubungan dengan profesi musik untuk dapat bertahan, 55 persen menjual alat musiknya untuk bisa tetap bertahan,” kata dia saat berkunjung ke Kemenko Perekonomian, Rabu (14/4).

Pada survei bersama Fesmi tersebut, Febrian HIVI juga mendapati banyak musisi yang kini menjalani usaha sampingan di luar profesi utamanya. Hal itu terpaksa dilakukan karena hampir semua akses pekerjaan kecuali digital menjadi tertutup.

Kendati begitu, dia menyebutkan, usaha sampingan tersebut ternyata belum bisa menutupi seluruh kebutuhan yang tampak meningkat akibat minimnya tawaran pekerjaan bagi musisi selama pandemi.

“Usaha-usahanya bisa kita lihat, memang paling banyak adalah kuliner. Lalu juga ada fashion dan turunannya, lalu keperluan spesifik terkait pandemi, kesehatan, produk lain dan jasa lain,” tuturnya.

“Kisaran penghasilan dari usaha yang digeluti. Paling besar 36 persen ternyata usahanya pun sedikit membantu, belum sangat membantu,” tandas Febrian HIVI.