Monthly Archives: September 2018

  • 0

  • 0

Penandatanganan MOU Antara Belarusia dan KSPSI

Category : Uncategorized

Penandatangan MOU antara Belarusia dan KSPSI yang ditandatangani langsung oleh Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea dan Chairman dari Belarusian Trade Union Bank and Financial Workers Mr. Alexander Likhtarovitch dikantor DPP KSPSI


  • 0

Kunjungan Chairman Belarusian Trade Union Of Bank and Financial Workers

Category : Uncategorized

Kunjungan Chairman Belarusian Trade Union of Bank and Financial Workers Mr. Alexander Likhtarovitch ke Indonesia disambut oleh Pengurus DPP KSPSI


  • 0

  • 0

  • 0

Era Digital Ekonomi, Pintaria Tingkatkan Kualitas Tenaga Kerja

Category : Uncategorized

JAKARTA – HarukaEDU, perusahaan teknologi edukasi dengan fokus pada online learning dari Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 2013 secara resmi meluncurkan Pintaria (www.pintaria.com) untuk membantu masyarakat Indonesia yang ingin meningkatkan pendidikan dan keahlian demi percepatan karir dan taraf hidup yang lebih baik. Pintaria diluncurkan langsung oleh Novistiar Rustandi, CEO sekaligus Co-founder dari HarukaEDU di Jakarta.

Saat ini, Indonesia kekurangan tenaga kerja yang berpendidikan tinggi dan memiliki keahlian yang dibutuhkan industri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, dari 115 juta pekerja di Indonesia, hanya 8% yang memiliki gelar sarjana. Sementara itu, tuntutan akan tenaga kerja Indonesia di era digital ekonomi semakin tinggi dengan adanya digitalisasi, otomasi dan kecerdasan buatan.

Dikutip dari sebuah studi yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute, (Skill Shift Automation and the Future of the Workforce, McKinsey Global Institute, Mei 2018), kebutuhan higher cognitive skills dan technological skills akan meningkat sebesar masing-masing 8% dan 55% pada tahun 2030 dibanding tahun 2016.

Selain itu, permintaan terhadap tenaga kerja kompeten dan memiliki keahlian di Indonesia akan meningkat pesat hingga 113 juta orang pada tahun 2030 sehingga menyebabkan kekurangan tenaga kerja ahli sebesar 9 juta (The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s potential, McKinsey Global Institute, 2012).

Keinginan untuk meningkatkan pendidikan dan keahlian diantara angkatan kerja di Indonesia sebenarnya cukup tinggi. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh HarukaEDU mengenai pendidikan tinggi yang diselenggarakan pada bulan April 2018 terhadap 1.521 responden dengan rentang usia 18-35 tahun, sebanyak 69% responden lulusan SMA/SMK ingin melanjutkan pendidikan untuk mendapatkan gelar sarjana dan sebanyak 41% tertarik pada pembelajaran online.


  • 0

Indonesia Butuh 57 Juta Tenaga Kerja Terampil

Category : Uncategorized

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Indonesia dinilai harus bergerak cepat dalam mengimbangi perubahan teknologi terutama di dunia industri. Saat ini industri tengah bergerak ke revolusi 4.0, di mana kualitas tenaga kerja benar-benar menentukan.

Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia (EconAct) Ronny P Sasmita kepada Liputan6.com mengungkapkan pemerintah harus meningkatkan keterampilan para lulusan siap kerja dan menyelaraskan dengan kebutuhan dunia industri.

Ronny mengaku dengan cita-cita Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-7 di dunia pada 2030, Indonesia juga membutuhkan 113 juta tenaga kerja terampil.

“Menurut data Kemnaker, Indonesia saat ini memiliki 56 juta tenaga terampil. Jadi, masih berkurang 57 juta lagi. Jika sekadar jumlah, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia memiliki 131 juta angkatan kerja. Setiap tahun angkatan kerja juga bertambah 2 juta orang. Artinya, melebihi kapasitas,” ujar dia, Rabu (11/7/2018).

Masalahnya, menurut Ronny, sebanyak 60,25 persen angkatan kerja baru itu di antaranya adalah tenaga kerja berpendidikan rendah, setingkat SD dan SMP.

Lalu, bagaimana dengan lulusan perguruan tinggi?

Bagi Ronny, di tingkat ini juga terjadi mismatch dan pekerja yang berada di bawah kualifikasi (underqualified) sehingga kualitas kompetensi menjadi di bawah standar.

“Inilah yang digadang-gadang sebagai sebab mengapa lulusan perguruan tinggi pun banyak jadi pengangguran,” tambah dia.


  • 0

RAPAT BULANAN DPP KSPSI YANG DI PIMPIN LANGSUNG OLEH PRESIDEN KSPSI ANDI GANI NENA WEA,SH

Category : Uncategorized

Rapat bulanan DPP KSPSI yang dipimpin langsung oleh Presiden KSPSI Bpk. Andi Gani Nena Wea, SH


  • 0

DOLAR AS “NGAMUK” EKONOMI RI 2019 TETAP DI TARGET 5,3%

Category : Uncategorized

Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 tetap sebesar 5,3% atau sesuai dengan yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada nota keuangan. Target pertumbuhan ini tidak diubah meski saat ini tantangan dari global terus menekan kurs mata uang rupiah.

Sri Mulyani menceritakan, tantangan perekonomian Indonesia dan negara berembang lainnya masih didominasi dari eksternal, yakni perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China, kebijakan normalisasi moneter AS mulai dari kenaikan suku bunga dan pengembalian arus modal keluar dari negara berkembang.

“Untuk 2019, kami masih menggunakan growth 5,3%,” kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (10/9/2018).

Baca juga: Rupiah Lemah Bikin APBN Untung atau Rugi? Ini Kata Sri Mulyani

Komposisi pertumbuhan ekonomi tersebut, kata Sri Mulyani akan ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga di level 5,1%, konsumsi pemerintah 5,4%, investasi di level 7%, ekspor 6,3%, dan impor 7,1%.

“Ini nggak berubah dari nota keuangan, karena untuk menghadapi down size risk,” jelas dia.

Menurut Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,3% di 2019 juga tidak beda jauh dengan ramalan dari lembaga internasional.

Seperti Bank Dunia yang memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,2%, OECD sebesar 5,3%, IDB sebesar 5,3%, dan IMF sebesar 5,4%.

“Mereka akan melakukan update forecast dengan berbagai yang kami sampaikan,” tutup dia.

Baca juga: Penerimaan Negara Rp 1.152 T, Capai 60% dari Target

Saksikan juga video ‘Soal Imbas Krisis Turki, Sri Mulyani: Ekonomi RI Kita Jaga’: