Bukan Pelatihan! Harusnya Kartu Pra Kerja Beri Bantuan ke Korban PHK

  • 0

Bukan Pelatihan! Harusnya Kartu Pra Kerja Beri Bantuan ke Korban PHK

Category : Uncategorized

Jakarta – Pemerintah baru saja meluncurkan program Kartu Pra Kerja. Program ini diharapkan dapat membantu para pekerja yang terkena PHK yang terdampak virus Corona.

Namun, menurut buruh program ini justru kurang tepat di tengah wabah Corona. Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar, mengatakan program latihan yang terdapat dalam Kartu Pra Kerja seharusnya ditiadakan.

“Kartu pekerja ini memang bagus semangatnya apalagi ditambah nilainya dan lebih luas, cuma di tengah situasi wabah gini harusnya orientasinya bukan pelatihan tapi bantuan. Sekarang ini kan dikasih bantuan tapi harus pelatihan dulu,” kata Timboel kepada detikcom, Senin (13/4/2020).

Timboel menyatakan saat ini pekerja yang kena PHK apalagi yang tidak mendapat pesangon hanya butuh bantuan bukan pelatihan.

“Mereka tuh beneran hanya butuh bantuan gitu lho. Silakan tanya ke orang yang daftar mereka itu daftar pasti demi mendapat bantuan, bukan berharap dilatih,” ungkap Timboel.

Timboel mempertanyakan pelatihan apa yang tepat di tengah wabah seperti ini. Pelatihan secara langsung pun tidak bisa dimungkinkan karena kondisi serba terbatas seperti ini.

Lalu pelatihan online pun menurutnya tidak akan mudah untuk para pekerja. Dengan pelatihan online, pekerja harus memiliki perangkat dan setidaknya dana tambahan untuk kuota internet.

“Nah sementara ini kondisi kita lagi serba kekurangan, perangkat juga pekerja belum tentu punya semua, punya juga apa bisa operasikannya. Belum lagi ini buat beli kuota juga kan, keluar uang lagi,” kata Timboel.

“Saya nggak melihat urgensi tuh apa pelatihan ini,” tegasnya.

Senada dengan Timboel, pengamat ketenagakerjaan Universitas Airlangga, Hadi Subhan, mengatakan memang program pelatihan pada Kartu Pra Kerja saat ini tidak tepat. Lebih baik uang Rp 3,5 juta yang dianggarkan per pekerja diberikan seluruhnya untuk bantuan bagi pekerja.

“Yang nggak tepat itu isinya pelatihan, kan katanya pekerjanya dapat Rp 3,5 juta itu harusnya untuk membantu korban PHK semacam pengganti pesangon yang tidak dibayar, sehingga dia masih bisa dapat semacam pemasukan bulanan,” kata Hadi.

“Fokusnya ini harusnya bantuan langsung aja, orang lapar kok dilatih,” tambahnya.

Hadi pun menilai sebetulnya para pekerja yang sudah kena PHK juga tidak lagi butuh pelatihan. Karena dia sudah terlatih di pekerjaan sebelumnya.

“Ini juga kan orang yang sudah bekerja kena PHK mereka kan sudah terlatih di pekerjaan sebelumnya. Buat apalagi mereka dilatih,” jelas Hadi.


Leave a Reply